Dosen FISIP Universitas Indonesia Cecep Hidayat, memandang fenomena ini sebagai bentuk adaptasi institusi negara terhadap logika media digital.
Menurutnya, pendekatan yang lebih friendly mampu membangun kedekatan emosional antara lembaga tinggi negara dengan masyarakat.
“Akan ada framing atau bingkai Istana sebagai ruang kerja yang profesional yang terbuka. Sehingga pendekatan komunikasi ini bisa membangun kedekatan emosional, bukan hanya legitimasi legal,” ujar Cecep kepada wartawan, Sabtu 21 Februari 2026.
Cecep menyoroti gaya komunikasi Teddy yang sangat relevan dengan karakteristik generasi muda saat ini, khususnya Gen Z. Di era di mana narasi visual lebih mendominasi, langkah Setkab yang tampil lebih kasual dianggap sebagai langkah yang tepat.
“Karakteristik Gen Z memang pendekatan komunikasi yang lebih kasual, yang visual, yang mungkin lebih manusiawi, dan juga behind the scenes. Nah jadi ini sangat relevan dengan logika komunikasi digital saat ini,” jelasnya.
Soal program rutin kunjungan pelajar ke kantor Setkab, Cecep menilai hal tersebut sebagai strategi komunikasi simbolik yang kuat. Langkah ini dianggap mampu mentransformasi citra kekuasaan menjadi lebih inklusif.
“Itu dapat dibaca sebagai reproduksi legitimasi negara secara halus. Dalam jangka panjang, ini bisa menjadi nation building melalui exposure yang top,” pungkasnya.



